Ringkasan Kitab Fadhlul Islam | Halaqah 14 - Keutamaan Niat - "Tidurnya Orang Cerdas dan Berbukanya Mereka"

 

  بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah ini membahas dalil kedelapan dalam Kitab Fadhlul Islam, yaitu perkataan Abu Darda radhiyallahu 'anhu: "يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم" (Alangkah indahnya tidurnya orang-orang yang cerdas dan berbukanya mereka). Pembahasan ini menyoroti pentingnya niat dalam mengubah perkara mubah menjadi ibadah dan keutamaan orang yang cerdas dalam memanfaatkan waktu.

1. Makna "Al-Akyas" (Orang-orang yang Cerdas):

  • Hadits menjelaskan: "الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ" (Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan orang yang beramal untuk setelah kematiannya).

  • Mereka adalah Ulul Albab (orang-orang yang berakal) yang mengetahui bagaimana menjadikan amalan yang sebenarnya mubah (diperbolehkan) menjadi bernilai ibadah.

2. Tidur yang Bernilai Ibadah:

  • Tidurnya orang cerdas bisa bernilai ibadah karena niat yang benar.

  • Contoh niat: Tidur dengan tujuan ingin kuat dan segar kembali untuk shalat malam, shalat Subuh, melanjutkan dars (pelajaran), atau halaqah Al-Qur'an. Niat ini sesuai dengan Islam.

  • Selain niat, juga melakukan adab-adab sebelum tidur, seperti berwudu, meruqyah diri, berzikir (Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahuakbar 34x), dan tidur di sisi kanan.

  • Dengan niat dan adab yang benar, tidur yang sama lamanya (misal 4-5 jam) bisa mendatangkan pahala, berbeda dengan orang yang tidur tanpa niat tersebut.

3. Ifthar (Berbuka/Tidak Berpuasa) yang Bernilai Ibadah:

  • Tidak berpuasa (ifthar) pun bisa bernilai ibadah jika disertai niat yang benar.

  • Contoh niat: Ifthar agar lebih kuat untuk membaca Al-Qur'an, tadris (belajar mengajar), atau ta'lim (belajar ilmu).

  • Contoh Abdullah bin Mas'ud: Beliau merasa lemah ketika berpuasa sehingga lebih memilih ifthar agar bisa lebih banyak membaca Al-Qur'an. Niatnya adalah ingin lebih kuat dalam beribadah (membaca Al-Qur'an), dan seandainya ia kuat seperti orang lain, ia pasti akan berpuasa. Dengan niat tulus ini, ia bisa mendapatkan pahala ifthar, pahala membaca Al-Qur'an, dan bahkan pahala puasa.

4. Pentingnya Niat dalam Mengubah Mubah Menjadi Ibadah:

  • Orang yang cerdas dalam agama (bukan hanya cerdas dalam ilmu dunia seperti matematika) adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan memperhatikan niat hatinya.

  • Para Salaf dahulu bisa mengubah perkara-perkara mubah menjadi ibadah karena niat yang benar di hati mereka.

  • Contoh lain: Bekerja dengan niat mencukupi diri dan keluarga, atau ingin bersedekah, juga bisa bernilai ibadah.

Intinya, Halaqah ini menekankan bahwa dengan niat yang tulus dan benar, serta melakukan adab-adab yang disyariatkan, seorang Muslim yang cerdas dapat mengubah amalan keseharian yang mubah menjadi bernilai ibadah, sehingga setiap detiknya tidak berlalu sia-sia.


5 Soal Pilihan Ganda dan Jawaban


Soal 1: 
Menurut perkataan Abu Darda, siapa yang dimaksud dengan "Al-Akyas" (orang-orang yang cerdas)?

a. Orang yang hanya pandai dalam matematika.

b. Orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah kematiannya.

c. Orang yang tidur paling lama.

d. Orang yang tidak pernah berpuasa.


Soal 2: 
Bagaimana tidur seseorang bisa bernilai ibadah menurut materi ini?

a. Tidur tanpa niat apapun.

b. Tidur dengan niat untuk bersantai saja.

c. Tidur dengan niat agar kuat untuk beribadah seperti shalat malam dan belajar.

d. Tidur dengan waktu yang sangat singkat.


Soal 3: 
Selain niat, apa saja adab-adab sebelum tidur yang disebutkan dalam materi yang bisa menambah pahala?

a. Makan banyak sebelum tidur.

b. Berwudu, meruqyah diri, dan berzikir.

c. Bermain game hingga larut malam.

d. Tidur di sisi kiri.


Soal 4: 
Mengapa Abdullah bin Mas'ud memilih untuk ifthar (tidak berpuasa) namun tetap mendapatkan pahala puasa?

a. Karena dia tidak kuat berpuasa sama sekali.

b. Karena dia ingin lebih kuat dalam membaca Al-Qur'an, dan memiliki niat tulus seandainya dia kuat seperti orang lain, dia akan berpuasa.

c. Karena dia malas berpuasa.

d. Karena dia tidak suka berpuasa.


Soal 5: 
Pesan utama yang ingin disampaikan dari contoh tidur dan ifthar orang cerdas ini adalah tentang pentingnya apa dalam setiap amalan?

a. Kuantitas amalan yang sangat banyak.

b. Niat yang tulus dan benar.

c. Kekayaan materi.

d. Kecerdasan intelektual semata.


Kunci Jawaban:

  1. b. Orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah kematiannya.

  2. c. Tidur dengan niat agar kuat untuk beribadah seperti shalat malam dan belajar.

  3. b. Berwudu, meruqyah diri, dan berzikir.

  4. b. Karena dia ingin lebih kuat dalam membaca Al-Qur'an, dan memiliki niat tulus seandainya dia kuat seperti orang lain, dia akan berpuasa.

  5. b. Niat yang tulus dan benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Kitab Fadhlul Islam | Halaqah 08 - Pembahasan Dalil Keempat (Hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma)

Ringkasan Kitab Fadhlul Islam | Halaqah 06 - Pembahasan Dalil kedua QS Yunus 104 Dan Dalil ketiga QS Al-Hadid 28 (Bagian 1)

Ringkasan Kitab Fadhlul Islam | Halaqah 12 - Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay bin Ka'ab tentang "As-Sabil dan As-Sunnah"